Formalin merupakan bahan kimia yang memiliki berbagai kegunaan di bidang industri dan keperluan nonpangan, tetapi penggunaannya pada makanan sangat berbahaya bagi kesehatan. Paparan formalin dapat terjadi melalui udara, kulit, maupun saluran pencernaan. Dampaknya bergantung pada cara, jumlah, dan lamanya paparan.
Artikel ini membahas bahaya formalin bagi kesehatan, mulai dari dampak paparan jangka pendek, risiko paparan berulang, gejala yang perlu diwaspadai, hingga langkah pencegahan agar tidak terpapar formalin secara tidak semestinya.
Bahaya Formalin bagi Kesehatan
Formalin merupakan larutan yang mengandung formaldehida dan digunakan untuk berbagai keperluan nonpangan. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menjelaskan bahwa formalin bukan bahan tambahan pangan dan dilarang digunakan pada makanan.
Formalin dapat bersifat toksik apabila tubuh terpapar dalam jumlah dan kondisi tertentu. Paparan dapat menyebabkan iritasi serta gangguan pada jaringan tubuh yang bersentuhan langsung dengan zat tersebut.
Karena itu, penggunaan formalin sebagai bahan pengawet makanan tidak dapat dibenarkan. Formalin memiliki fungsi tertentu dalam bidang industri dan penggunaan lainnya, tetapi bukan sebagai pengawet makanan.
Dampak Formalin terhadap Kesehatan
Dampak formalin terhadap kesehatan dapat berbeda-beda tergantung jalur paparan, konsentrasi, lama paparan, dan kondisi orang yang terpapar. Paparan melalui saluran pernapasan terutama dapat mengiritasi mata dan saluran pernapasan, sedangkan tertelan dapat menyebabkan gangguan serius pada saluran pencernaan.
1. Iritasi mata dan saluran pernapasan
Formaldehida memiliki bau yang tajam dan dapat menyebabkan iritasi. Paparan melalui udara dapat menimbulkan rasa perih pada mata, mata berair, iritasi hidung dan tenggorokan, serta gangguan pada saluran pernapasan.
Orang yang bekerja dengan bahan yang mengandung formaldehida perlu memperhatikan ventilasi dan prosedur keselamatan kerja untuk mengurangi paparan.
2. Gangguan pada saluran pencernaan
Formalin yang tertelan dapat menyebabkan iritasi dan luka pada saluran pencernaan. Gejala yang dapat muncul antara lain mual, muntah, sakit atau rasa terbakar pada perut dan tenggorokan.
Paparan dalam jumlah tinggi dapat menyebabkan kerusakan yang jauh lebih serius sehingga membutuhkan penanganan medis segera.
3. Iritasi pada kulit
Kontak langsung dengan formaldehida dapat menyebabkan iritasi kulit. Pada sebagian orang, paparan berulang dapat menimbulkan masalah kulit yang lebih berat.
Karena itu, formalin tidak boleh digunakan atau disentuhkan pada tubuh tanpa prosedur keselamatan yang sesuai.
4. Dampak paparan berulang
Paparan formaldehida secara berulang, terutama dalam lingkungan kerja tertentu, perlu dikendalikan karena dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan.
International Agency for Research on Cancer (IARC) mengklasifikasikan formaldehida sebagai karsinogenik bagi manusia (Group 1). Klasifikasi ini menunjukkan adanya bukti yang cukup bahwa formaldehida dapat menyebabkan kanker pada manusia, terutama berdasarkan bukti epidemiologis yang tersedia.
Apakah Formalin Dapat Menyebabkan Kanker?
Ya. Formaldehida telah diklasifikasikan oleh IARC sebagai karsinogenik bagi manusia (Group 1). Namun, penting memahami bahwa klasifikasi karsinogenik menunjukkan adanya bahaya atau kemampuan suatu zat untuk menyebabkan kanker, bukan berarti setiap orang yang terpapar formaldehida pasti akan mengalami kanker.
Risiko kesehatan dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk besarnya paparan, jalur masuk ke tubuh, frekuensi paparan, dan lamanya seseorang terpapar.
Karena itu, langkah yang paling penting adalah mengurangi dan mencegah paparan yang tidak diperlukan, terutama terhadap formalin yang digunakan secara tidak semestinya pada pangan.
Bahaya Formalin pada Makanan
Salah satu penyalahgunaan formalin yang banyak mendapat perhatian adalah penggunaannya sebagai pengawet makanan. Formalin dapat membuat produk tertentu menjadi lebih tahan terhadap pembusukan, tetapi penggunaan tersebut tidak menjadikannya aman untuk dikonsumsi.
BPOM memasukkan formalin sebagai salah satu bahan kimia berbahaya yang dilarang digunakan untuk pangan.
Beberapa produk pangan yang dalam berbagai kasus pernah ditemukan disalahgunakan dengan formalin antara lain mie basah, tahu, ikan dan produk pangan lainnya. Namun, ciri fisik saja tidak dapat digunakan untuk memastikan suatu makanan mengandung formalin. Pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk memastikan kandungan suatu bahan kimia.
Gejala Paparan Formalin yang Perlu Diwaspadai
Gejala akibat paparan formalin dapat berbeda bergantung pada jalur dan tingkat paparannya. Beberapa keluhan yang dapat muncul antara lain:
- mata terasa perih atau berair;
- iritasi hidung dan tenggorokan;
- batuk atau rasa tidak nyaman pada saluran pernapasan;
- mual dan muntah;
- rasa terbakar pada mulut atau tenggorokan;
- sakit atau nyeri pada perut;
- iritasi pada kulit; dan
- pada paparan berat, dapat terjadi kondisi medis yang serius.
Gejala tersebut tidak secara khusus membuktikan bahwa seseorang mengalami keracunan formalin karena berbagai kondisi kesehatan lain dapat menimbulkan keluhan serupa.
Apa yang Harus Dilakukan Jika Terpapar Formalin?
Jika seseorang diduga mengalami paparan formalin dalam jumlah yang berbahaya, terutama setelah tertelan atau mengalami gejala berat, tindakan yang paling tepat adalah segera mendapatkan pertolongan medis.
Jangan mencoba melakukan tindakan penanganan keracunan secara sembarangan, termasuk memaksakan muntah, karena tindakan tersebut dapat memperburuk cedera pada saluran pencernaan pada kasus paparan bahan kimia korosif.
Informasikan kepada tenaga kesehatan mengenai bahan yang diduga menyebabkan paparan, jalur paparannya, waktu kejadian, dan informasi lain yang diketahui.
Cara Mencegah Paparan Formalin
Pencegahan merupakan langkah penting untuk mengurangi risiko paparan formalin. Beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain:
- Jangan menggunakan formalin sebagai bahan pengawet makanan.
- Jangan membeli atau menggunakan formalin untuk keperluan yang tidak sesuai dengan peruntukannya.
- Jika bekerja dengan bahan yang mengandung formaldehida, ikuti prosedur keselamatan kerja yang berlaku.
- Pastikan ruangan kerja memiliki ventilasi yang memadai.
- Gunakan alat pelindung diri sesuai dengan risiko pekerjaan.
- Simpan bahan kimia sesuai prosedur keselamatan dan jauhkan dari bahan makanan.
- Jangan mengandalkan ciri fisik makanan saja untuk memastikan ada atau tidaknya formalin.
Formalin Bukan Pengawet Makanan
Kesalahan yang masih sering terjadi adalah menganggap formalin sebagai pengawet makanan karena kemampuannya menghambat mikroorganisme dan memperlambat kerusakan bahan tertentu.
Padahal, fungsi suatu bahan kimia tidak berarti bahan tersebut aman digunakan untuk semua keperluan. Formalin mempunyai penggunaan tertentu dalam industri dan bidang lainnya, tetapi tidak diperbolehkan digunakan sebagai bahan tambahan pangan.
Untuk memahami lebih lengkap mengenai definisi formalin, fungsi, penggunaan, serta sifat kimianya, baca artikel utama berikut:
Pengertian, Fungsi dan Sifat Formalin
Perbedaan Formalin dan Penggunaan Formalin yang Benar
Formalin bukan berarti selalu digunakan secara ilegal atau berbahaya. Yang perlu dibedakan adalah penggunaan formalin sesuai peruntukan dan penyalahgunaan formalin pada pangan.
Formalin dapat digunakan dalam berbagai kegiatan industri, penelitian, dan keperluan tertentu dengan prosedur keselamatan yang sesuai. Masalah muncul ketika bahan tersebut digunakan pada makanan atau digunakan tanpa memperhatikan keselamatan manusia.
Kesimpulan
Bahaya formalin bagi kesehatan terutama berkaitan dengan paparan formaldehida yang dapat mengiritasi jaringan tubuh dan menyebabkan gangguan kesehatan, khususnya pada paparan yang tinggi atau berulang.
Formalin juga tidak boleh digunakan sebagai pengawet makanan. BPOM menyatakan formalin termasuk bahan kimia yang dilarang digunakan untuk pangan.
Selain menyebabkan efek kesehatan akibat paparan, formaldehida telah diklasifikasikan IARC sebagai karsinogenik bagi manusia. Karena itu, penggunaan formalin harus dibatasi pada peruntukan yang benar dan dilakukan dengan prosedur keselamatan yang sesuai.
Untuk memahami aspek dasar mengenai formalin, termasuk pengertian, fungsi, dan sifatnya, silakan membaca artikel pilar Pengertian, Fungsi dan Sifat Formalin.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah formalin berbahaya bagi kesehatan?
Ya. Formalin mengandung formaldehida yang dapat menyebabkan iritasi dan gangguan kesehatan apabila terjadi paparan. Tingkat bahayanya bergantung pada jalur, jumlah, dan durasi paparan.
Apakah formalin boleh digunakan untuk mengawetkan makanan?
Tidak. Formalin bukan bahan tambahan pangan dan penggunaannya sebagai pengawet makanan dilarang.
Apa dampak formalin jika tertelan?
Formalin yang tertelan dapat menyebabkan iritasi dan luka pada saluran pencernaan serta menimbulkan gejala seperti mual, muntah, rasa terbakar, dan sakit perut. Paparan berat dapat menyebabkan kondisi yang serius dan membutuhkan pertolongan medis.
Apakah formalin dapat menyebabkan kanker?
Formaldehida telah diklasifikasikan IARC sebagai karsinogenik bagi manusia (Group 1). Namun, klasifikasi tersebut menunjukkan bahaya karsinogenik suatu zat dan bukan berarti setiap paparan akan menyebabkan kanker.
Bagaimana cara mengetahui makanan mengandung formalin?
Ciri fisik makanan tidak dapat dijadikan dasar yang pasti untuk memastikan keberadaan formalin. Pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk memastikan kandungan formalin pada suatu produk pangan.
Sumber Referensi
- Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) – Formalin
- Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) – Bahan Berbahaya yang Dilarang untuk Pangan
- IARC Monographs – Agents Classified by the IARC
Artikel terkait: Pengertian, Fungsi dan Sifat Formalin