Obesitas adalah kondisi ketika terjadi penumpukan lemak tubuh secara berlebihan sehingga dapat meningkatkan risiko terhadap kesehatan. Istilah obesitas sering disamakan dengan overweight atau kegemukan, padahal keduanya tidak selalu memiliki arti yang sama.
Memahami pengertian obesitas dengan benar penting karena kondisi ini bukan sekadar persoalan penampilan atau berat badan. Obesitas merupakan penyakit kronis yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari pola makan, aktivitas fisik, lingkungan, faktor genetik, hingga kondisi sosial dan psikologis.
Menurut World Health Organization (WHO), obesitas merupakan penyakit kronis yang kompleks dan dapat mengalami kekambuhan. Terjadinya obesitas dipengaruhi oleh interaksi berbagai faktor, termasuk genetika, neurobiologi, perilaku makan, lingkungan, akses terhadap makanan sehat, serta kondisi sosial dan ekonomi.
Artikel ini membahas pengertian obesitas, perbedaannya dengan overweight, penyebab, ciri-ciri, jenis, cara mengukur, IMT, obesitas sentral, dampak terhadap kesehatan, serta langkah pencegahannya.
Apa Itu Obesitas?
Obesitas adalah keadaan ketika tubuh memiliki penumpukan lemak yang berlebihan dan kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan.
Obesitas tidak hanya ditentukan berdasarkan bentuk tubuh atau penampilan seseorang. Dalam praktik kesehatan, berat dan tinggi badan dapat digunakan untuk menghitung Indeks Massa Tubuh (IMT) atau Body Mass Index (BMI). Pengukuran lain, seperti lingkar perut, juga dapat membantu memberikan gambaran mengenai penumpukan lemak tubuh.
Dengan demikian, seseorang tidak sebaiknya menyimpulkan bahwa dirinya mengalami obesitas hanya berdasarkan penampilan fisik. Penilaian status berat badan perlu menggunakan ukuran yang sesuai dan, bila diperlukan, dilakukan dengan bantuan tenaga kesehatan.
Intinya: obesitas bukan sekadar istilah untuk orang yang terlihat gemuk. Obesitas berkaitan dengan penumpukan lemak tubuh yang berlebihan dan peningkatan risiko terhadap kesehatan.
Pengertian Obesitas Menurut WHO
WHO mendefinisikan overweight dan obesitas sebagai kondisi penumpukan lemak yang abnormal atau berlebihan sehingga dapat mengganggu kesehatan.
Untuk orang dewasa, WHO menggunakan Body Mass Index (BMI) atau IMT sebagai salah satu ukuran yang umum digunakan. Overweight pada orang dewasa didefinisikan sebagai BMI ≥25, sedangkan obesitas didefinisikan sebagai BMI ≥30.
Namun, IMT bukan pengukuran langsung jumlah lemak tubuh. Karena itu, hasil IMT perlu dipahami dalam konteks yang tepat dan dapat dilengkapi dengan pengukuran lain, seperti lingkar perut.
WHO juga menegaskan bahwa penyebab obesitas bersifat multifaktor. Pola makan dan aktivitas fisik memang berperan, tetapi faktor lingkungan, genetik, perilaku, kondisi sosial, serta faktor medis tertentu juga dapat berpengaruh.
Perbedaan Overweight dan Obesitas
Overweight berarti berat badan seseorang berada di atas rentang yang dianggap sehat untuk tinggi badannya, sedangkan obesitas menunjukkan kondisi penumpukan lemak tubuh yang berlebihan dan berkaitan dengan peningkatan risiko kesehatan.
Keduanya tidak sebaiknya dianggap sebagai istilah yang sama. Seseorang yang mengalami overweight belum tentu mengalami obesitas.
Perbedaan tersebut dapat dijelaskan menggunakan IMT. Menurut klasifikasi WHO untuk orang dewasa, BMI 25 atau lebih termasuk overweight, sedangkan BMI 30 atau lebih termasuk obesitas.
Untuk memahami perbedaannya secara lebih lengkap, baca artikel perbedaan overweight dan obesitas.
Bagaimana Obesitas Diukur?
Salah satu metode yang paling banyak digunakan untuk menilai status berat badan orang dewasa adalah Indeks Massa Tubuh (IMT).
Rumus IMT adalah:
IMT = berat badan (kg) ÷ [tinggi badan (m) × tinggi badan (m)]
Contohnya, seseorang memiliki berat badan 80 kg dan tinggi badan 1,70 meter. Maka IMT-nya adalah:
80 ÷ (1,70 × 1,70) = 27,7 kg/m²
Perhitungan tersebut memberikan nilai IMT yang selanjutnya dapat dibandingkan dengan klasifikasi yang digunakan.
Untuk penjelasan lebih lengkap mengenai rumus, contoh, dan interpretasi hasilnya, baca cara menghitung IMT (BMI) dengan rumus dan contoh perhitungannya.
Kategori IMT untuk Orang Dewasa
Perlu diperhatikan bahwa batas IMT dapat berbeda bergantung pada pedoman dan populasi yang digunakan.
WHO menggunakan BMI ≥30 sebagai batas obesitas untuk orang dewasa secara umum. Sementara itu, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menggunakan IMT ≥27 sebagai batas operasional obesitas untuk penduduk usia di atas 18 tahun di Indonesia.
| Kategori SKI 2023 | IMT |
|---|---|
| Wasting | < 18,5 |
| Normal | 18,5 – < 25,0 |
| Overweight | 25,0 – < 27,0 |
| Obesitas | ≥ 27,0 |
Perbedaan batas tersebut menunjukkan mengapa pembaca perlu mengetahui pedoman yang digunakan ketika membaca informasi mengenai IMT dan obesitas.
Ciri-Ciri Obesitas
Obesitas tidak dapat dipastikan hanya dari satu ciri fisik. Bentuk tubuh setiap orang berbeda dan penampilan tidak selalu menggambarkan jumlah lemak tubuh maupun risiko kesehatan seseorang.
Beberapa indikator yang dapat digunakan dalam penilaian antara lain:
- hasil pengukuran IMT;
- lingkar perut;
- pola penumpukan lemak tubuh;
- perubahan berat badan dari waktu ke waktu; dan
- faktor kesehatan lain yang dinilai oleh tenaga kesehatan.
Karena itu, orang yang ingin mengetahui apakah dirinya mengalami obesitas sebaiknya tidak hanya mengandalkan kaca atau ukuran pakaian.
Penjelasan lebih khusus mengenai hal tersebut dapat dibaca pada artikel ciri-ciri obesitas pada orang dewasa dan cara memastikannya.
Jenis Obesitas
Obesitas dapat dibahas berdasarkan pola penumpukan lemak dalam tubuh. Salah satu istilah yang sering digunakan adalah obesitas sentral, yaitu penumpukan lemak terutama di sekitar bagian perut.
Obesitas sentral penting diperhatikan karena lingkar perut dapat memberikan informasi tambahan mengenai distribusi lemak tubuh yang tidak selalu terlihat hanya dari nilai IMT.
Untuk mengetahui lebih jauh mengenai kondisi tersebut, baca artikel obesitas sentral, pengertian, batas lingkar perut dan risikonya.
Obesitas Sentral dan Lingkar Perut
Lingkar perut merupakan salah satu pengukuran antropometri yang dapat digunakan untuk menilai obesitas sentral.
Dalam konteks Indonesia, pengukuran lingkar perut menjadi salah satu indikator yang digunakan dalam penilaian status gizi. Pengukuran ini dapat memberikan informasi tambahan yang tidak diperoleh hanya dari berat badan dan tinggi badan.
Obesitas sentral berkaitan dengan penumpukan lemak di area perut. Karena itu, seseorang dengan berat badan yang tidak terlalu tinggi sekalipun tetap dapat memiliki penumpukan lemak abdominal yang perlu diperhatikan.
Untuk mengetahui bagaimana obesitas sentral dinilai dan mengapa lingkar perut penting, baca artikel obesitas sentral dan batas lingkar perut.
Apa Penyebab Obesitas?
Obesitas tidak disebabkan oleh satu faktor saja. Dalam banyak kasus, obesitas merupakan hasil interaksi berbagai faktor yang berlangsung dalam waktu lama.
1. Pola Makan
Pola makan dengan asupan energi yang tinggi, terutama jika berlangsung terus-menerus, dapat berkontribusi terhadap peningkatan berat badan. Jenis makanan, ukuran porsi, frekuensi makan, serta konsumsi makanan dan minuman yang tinggi energi perlu diperhatikan.
2. Kurangnya Aktivitas Fisik
Aktivitas fisik yang rendah dapat mengurangi pengeluaran energi. Kebiasaan duduk dalam waktu lama dan gaya hidup sedentari juga dapat berkontribusi terhadap peningkatan risiko kelebihan berat badan.
3. Faktor Genetik
Genetik dapat memengaruhi kecenderungan seseorang mengalami obesitas. Namun, faktor genetik tidak berarti bahwa obesitas sepenuhnya ditentukan oleh keturunan. Lingkungan dan perilaku tetap berperan.
4. Faktor Lingkungan
Lingkungan tempat seseorang tinggal, bekerja, belajar, dan beraktivitas dapat memengaruhi pilihan makanan serta kesempatan untuk melakukan aktivitas fisik.
5. Faktor Sosial dan Psikologis
Kondisi sosial, kebiasaan, stres, kualitas tidur, dan berbagai faktor psikososial dapat berhubungan dengan perilaku makan maupun aktivitas fisik.
6. Kondisi Medis dan Obat Tertentu
Pada sebagian orang, kondisi medis tertentu atau penggunaan obat tertentu dapat berkontribusi terhadap peningkatan berat badan. Karena itu, seseorang yang mengalami perubahan berat badan yang tidak biasa sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Pembahasan yang lebih mendalam dapat dibaca pada artikel penyebab obesitas dan faktor yang meningkatkan risikonya.
Dampak Obesitas bagi Kesehatan
Obesitas dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular. Risiko tersebut tidak berarti setiap orang dengan obesitas pasti mengalami penyakit tertentu, tetapi kemungkinan terjadinya masalah kesehatan dapat meningkat.
Beberapa kondisi yang berhubungan dengan overweight dan obesitas antara lain:
- penyakit kardiovaskular;
- tekanan darah tinggi;
- diabetes tipe 2;
- gangguan muskuloskeletal seperti osteoartritis; dan
- beberapa jenis kanker.
Obesitas juga dapat memengaruhi kualitas hidup dan berhubungan dengan masalah psikososial, termasuk stigma dan diskriminasi.
Untuk pembahasan lebih lengkap mengenai berbagai risiko tersebut, baca dampak obesitas bagi kesehatan dan risiko penyakit.
Obesitas pada Anak dan Remaja
Obesitas tidak hanya terjadi pada orang dewasa. Anak dan remaja juga dapat mengalami overweight atau obesitas.
Namun, penilaian obesitas pada anak tidak dapat dilakukan dengan menggunakan batas IMT orang dewasa secara langsung. Usia dan jenis kelamin perlu diperhitungkan karena tubuh anak masih mengalami pertumbuhan.
WHO menggunakan pendekatan BMI-for-age untuk menilai overweight dan obesitas pada anak dan remaja usia 5–19 tahun.
Faktor yang memengaruhi berat badan anak dapat mencakup pola makan, aktivitas fisik, perilaku sedentari, lingkungan keluarga, serta berbagai faktor lainnya.
Untuk pembahasan khusus, baca artikel obesitas pada anak, penyebab, risiko dan cara mencegahnya.
Apakah Obesitas Bisa Dicegah?
Overweight dan obesitas pada dasarnya dapat dicegah dan dikelola melalui berbagai pendekatan. Pencegahan tidak berarti melakukan diet ekstrem, melainkan membangun kebiasaan hidup yang mendukung kesehatan dalam jangka panjang.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
- mengonsumsi makanan dengan pola yang seimbang;
- meningkatkan aktivitas fisik secara teratur;
- mengurangi kebiasaan sedentari;
- membatasi konsumsi makanan dan minuman yang tinggi energi;
- memperhatikan kualitas dan durasi tidur;
- membangun lingkungan keluarga yang mendukung kebiasaan sehat; dan
- memantau perubahan berat badan secara berkala.
Untuk panduan yang lebih khusus, baca artikel cara mencegah obesitas dengan pola makan sehat dan aktivitas fisik.
Obesitas Bukan Sekadar Masalah Berat Badan
Penting untuk memahami bahwa obesitas bukan sekadar persoalan angka pada timbangan. Obesitas merupakan kondisi kesehatan kompleks yang dapat dipengaruhi oleh banyak faktor.
Karena penyebabnya beragam, pendekatan terhadap obesitas juga tidak selalu sama untuk setiap orang. Perubahan pola makan dan aktivitas fisik merupakan bagian penting dari gaya hidup sehat, tetapi sebagian orang mungkin memerlukan penilaian dan penanganan medis sesuai kondisi masing-masing.
Kementerian Kesehatan RI juga telah menetapkan Pedoman Nasional Pelayanan Klinis Tata Laksana Obesitas Dewasa melalui Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/Menkes/509/2025. Pedoman tersebut menunjukkan bahwa obesitas dipandang sebagai kondisi yang memerlukan pendekatan pelayanan kesehatan yang terstruktur.
Kapan Sebaiknya Berkonsultasi dengan Tenaga Kesehatan?
Jika seseorang mengalami peningkatan berat badan yang menetap, memiliki IMT atau lingkar perut yang berada pada kategori berisiko, atau memiliki kondisi kesehatan lain yang berkaitan dengan berat badan, konsultasi dengan tenaga kesehatan dapat membantu menentukan penilaian dan langkah yang sesuai.
Hasil perhitungan IMT sebaiknya tidak digunakan untuk mendiagnosis kondisi kesehatan secara mandiri. IMT merupakan salah satu indikator dan perlu dipahami bersama faktor kesehatan lainnya.
Kesimpulan
Pengertian obesitas secara sederhana adalah kondisi penumpukan lemak tubuh yang berlebihan dan dapat meningkatkan risiko kesehatan. Obesitas berbeda dengan overweight, meskipun keduanya sama-sama berkaitan dengan berat badan.
Obesitas merupakan penyakit kronis yang kompleks dan dapat dipengaruhi oleh pola makan, aktivitas fisik, faktor genetik, lingkungan, kondisi sosial, faktor psikologis, serta kondisi medis tertentu.
IMT merupakan salah satu metode yang umum digunakan untuk menilai status berat badan orang dewasa, sedangkan lingkar perut dapat memberikan informasi tambahan mengenai penumpukan lemak di area perut.
Karena obesitas berkaitan dengan berbagai risiko kesehatan, pemahaman yang benar mengenai penyebab, pengukuran, pencegahan, dan pengelolaannya menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan.
FAQ tentang Obesitas
Apa yang dimaksud dengan obesitas?
Obesitas adalah kondisi penumpukan lemak tubuh yang berlebihan dan dapat meningkatkan risiko terhadap kesehatan. WHO mengklasifikasikannya sebagai penyakit kronis yang kompleks dan dapat mengalami kekambuhan.
Apakah overweight sama dengan obesitas?
Tidak. Overweight dan obesitas merupakan kondisi yang berbeda. Secara umum, overweight menunjukkan berat badan yang berada di atas rentang tertentu, sedangkan obesitas menunjukkan penumpukan lemak tubuh yang berlebihan dan risiko kesehatan yang lebih tinggi.
Berapa IMT yang termasuk obesitas?
WHO menggunakan BMI ≥30 untuk mendefinisikan obesitas pada orang dewasa. Dalam konteks Indonesia, SKI 2023 menggunakan IMT ≥27 sebagai batas operasional obesitas pada penduduk usia di atas 18 tahun.
Apakah IMT cukup untuk menentukan obesitas?
IMT merupakan salah satu indikator yang umum digunakan, tetapi bukan pengukuran langsung jumlah lemak tubuh. Penilaian dapat dilengkapi dengan pengukuran lain seperti lingkar perut dan faktor kesehatan lainnya.
Apakah orang kurus bisa mengalami obesitas?
Penampilan tubuh saja tidak cukup untuk menentukan jumlah lemak tubuh atau risiko kesehatan. Karena itu, penilaian status gizi sebaiknya menggunakan ukuran yang sesuai dan tidak hanya berdasarkan penampilan.
Apakah obesitas bisa dicegah?
Risiko obesitas dapat dikurangi dengan membangun pola makan sehat, melakukan aktivitas fisik secara teratur, mengurangi perilaku sedentari, menjaga tidur yang baik, serta menciptakan lingkungan yang mendukung kebiasaan sehat.
Catatan kesehatan: Artikel ini bersifat informatif dan tidak menggantikan diagnosis atau konsultasi dengan dokter maupun tenaga kesehatan. Jika memiliki kekhawatiran mengenai berat badan atau kondisi kesehatan, konsultasikan dengan tenaga kesehatan yang kompeten.
Sumber Referensi
- World Health Organization (WHO), Obesity and overweight, pembaruan 8 Desember 2025.
- Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI, Hasil Utama SKI 2023.
- Kementerian Kesehatan RI, Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/Menkes/509/2025 tentang Pedoman Nasional Pelayanan Klinis Tata Laksana Obesitas Dewasa.